PPDM DESA SARUMANA SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN KAKAO RAKYAT DI SULAWESI TENGAH

  • Flora Pasaru Universitas Tadulako
  • Yosep Patadungan Universitas Tadulako
  • Moh. Hibban Toana Universitas Tadulako
Keywords: Rakitan teknologi pengembangan kakao rakyat, pengendalian hama dan penyakit tanaman kakao, penanganan hasil kakao

Abstract

Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perkebunan yang turut memberi andil dalam meningkatkan perekonomian masyarakat terutama di pedesaan. Banyak faktor yang menyebabkan produktivitas kakao saat ini mengalami penurunan antara lain: (1). tanaman kakao rakyat sudah berumur lebih dari 15 tahun; (2) serangan hama penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella (3). serangan penyakit pembuluh kayu atau vascular streak dieback(VSD) (4). serangan penyakit busuk buah Phythopthora palmivora dan (5) kurang perawatan oleh petani.Hasil rembug dengan anggota kelompok tani mitra bersama dengan kepala desa disepakati untuk menyelesaikan permasalahan yang dianggap prioritas untuk segera diatasi dalam pelaksanaan program pengembangan desa mitra (PPDM). Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) bertujuan untuk mengembangkan Desa Sarumana sebagai pusat kakao rakyat di Sulawesi Tengah melalui peningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota masyarakat dalam perakitan teknologi budidaya berdaya hasil tinggi, teknologi pengendalian hama dan penyakit, teknologi pengembangan pupuk organik untuk kesinambungan produksi kakao, dan teknologi penanganan hasil kakao agar dapat bernilai jual tinggi. Metode yang diterapkan dalam  pencapai tujuan tersebut adalah: pelatihan, demonstrasi teknologi, demplot, pendampingan dan pembinaan yang dilakukan secara partisipatif dan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan kakao berdaya hasil tinggi. Pada pelaksanaan pelatihan diberikan materi tentang teknik grafting, pengendalian hama PBK menggunakan predator Dolichoderus thoracicus,pengendalian penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) dengan mikroba antagonis, pengendalian penyakit busuk buah kakao dengan biofungisida, dan pembutan pupuk organik berbahan baku limbah kulit buah kakao. Hasil yang diperoleh bertambahnya wawasan dan pengetahuan masyarakat sasaran melalui programpenyuluhan, pelatihan dan pendampingan serta pemberdayaan, serta terjadi perubahan sikap maupun pola pikir dari masyarakat khususnya kelompok tani mitra tentang pentingnya pengembangan kakao. Terbentuknya 2 demplot yakni demplot teknologi pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan sarang buatan Dolichoderus thoracicus dan infus akar Trichoderma cair , dan demplot budidaya tanaman kakao dengan teknologi side grafting pada tanaman kakao, terbentuknya 2 unit bak pengomposan pada kelompok tani mitra, bertambahnya skill masyarakat  dalam mengelola sumber daya alam maupun limbah pertanian melalui program pelatihan pembuatan pupuk kompos berbahan baku limbah kulit buah kakao,dan pupuk organik cair (MOL) dari limbah rumah tangga.  

References

Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology. Fifth Edition. Elsevier Academic Press. USA. 922 p.
Dewi FSRK. 2011. Identifikasi molekuler dan keragaman genetik patogen penyebab penyakit pembuluh kayu pada tanaman kakao berdasarkan sekuen Internal Transcribe Spacer (ITS) [tesis]. Bali (ID): Universitas Udayana.
Dhana NP, Lubis L, Lisnawita. 2013. Isolasi cendawan Oncobasidium theobromae (Talbot & Keane) penyebab penyakit Vascular Streak Dieback pada tanaman kakao di laboratorium. J Online Agroekoteknologi. 2(1):288–293.
Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. 2014. Good Agriculture Practise on Cacao (Teknis Budidaya Kakao yang Baik).
Halimah D, Sukamto S. 2006. Sejarah dan perkembangan penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) di Indonesia. Warta Puslit koka Indonesia. 22:107–109.
Syakir, M. 2010. Budidaya dan Pascapanen Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Published
2019-10-30
Section
Articles